Apa itu ROA dan ROE ?

Dalam berinvestasi, penting sekali bagi calon investor untuk menganalisa kesehatan keuangan perusahaan. Salah satu yang sering menjadi pertanyaan adalah apa itu ROA (Return on Asset) dan ROE (Return on Equity). Kedua metrik ini sering sekali dikutip oleh para investor dan tak jarang menjadi salah satu alasan utama untuk membeli atau menjauhi sebuah perusahaan. Mengapa metrik ini begitu penting?

Bagi investor, salah satu tujuan utama beroperasinya perusahaan adalah untuk memaksimalkan nilai bagi pemegang saham atau yang sering disebut sebagai shardeholders value. Nilai bagi pemegang saham ini banyak dipengaruhi oleh profitabilitas perusahaan. Semakin baik profitabilitas perusahaan, maka tentunya pemegang saham akan memperoleh nilai atau keuntungan yang lebih baik pula. Disinilah pentingnya manajemen yang mampu menghasilkan profitabilitas yang dapat kita ukur dengan ROA dan ROE.

ROA adalah tingkat pengembalian laba bersih perusahaan dibandingkan dengan total aset, sementara ROE adalah tingkat pengembalian laba bersih perusahaan dibandingkan dengan total ekuitas. Kedua metrik ini dapat memberikan gambaran singkat akan kemampuan manajemen dalam mengelola aset (untuk ROA) atau modal ekuitas (untuk ROE) dalam menghasilkan laba bersih. Semakin tinggi nilai ROA dan ROE, berarti semakin efektif pula kemampuan manajemen dalam menggunakan aset dan ekuitas yang dimilikinya. Sobat Refo bisa memperoleh ROA dan ROE dengan rumus berikut :

Nah, kira-kira mana yang lebih unggul dan lebih baik dipakai? Sebelum menjawabnya, ada baiknya kita terlebih dahulu membahas perbedaan diantara ROA dan ROE.

Salah satu perbedaan utama dari ROA dan ROE adalah dalam hal perlakuannya terhadap hutang yang berada di kolom liabilitas. Seperti yang mungkin sudah kalian sadari, ROA dihitung menggunakan aset yang terdiri dari ekuitas ditambah liabilitas sementara ROE sama sekali tidak memperhitungkan liabilitas. Tentu jika perusahaan sama sekali tidak memiliki liabilitas, maka nilai ROA dan ROE ini akan sama. Sebaliknya jika perusahaan memiliki hutang, maka dengan asumsi laba bersih yang sama, nilai ROE akan lebih tinggi dibanding nilai ROA. Langsung aja kita buat ilustrasi biar lebih mudah dipahami :

Ilustrasi ROA vs ROE

Perusahaan A :

  • Total Aset 1 Triliun
  • Total Ekuitas 500 Miliar
  • Laba Bersih 200 Miliar

Perusahaan B :

  • Total Aset 1 Triliun
  • Total Ekuitas 750 miliar
  • Laba Bersih 250 miliar

Dari informasi tersebut, maka kita dapat menemukan bahwa perusahaan A memiliki ROA 20%, dan ROE 40%. Sementara perusahaan B memiliki ROA 25%, dan ROE 33%. Kalau seperti ini, perusahaan mana yang lebih baik? Perusahaan A memiliki ROE yang lebih tinggi, namun perusahaan B memiliki ROA yang lebih tinggi.

Sebagai pemegang saham, tentunya kita lebih peduli dengan ekuitas karena saham yang kita pegang dicatat di kolom ekuitas, bukan liabilitas. Dalam hal ini, setiap 1 rupiah yang ditambahkan ke kolom ekuitas, perusahaan A mampu menghasilkan laba bersih 40% sementara perusahaan B hanya mampu memberikan laba bersih 33%. Oh, berarti udah jelas kalau perusahaan A lebih baik ya Refo?

Eits, tunggu dulu. Ada angka yang belum kita bahas disini, yaitu hutang.

Sudah bukan rahasia kalau hutang menimbulkan sebuah risiko bagi keberlanjutan perusahaan. Pada perusahaan yang sehat, maka hutang dapat digunakan sebagai leverage untuk meraih laba bersih yang lebih tinggi, namun pada perusahaan yang kurang baik, hutang yang tidak produktif justru menggerus porsi laba dan tak jarang membuat perusahaan rugi. Namun karena dunia bisnis sangat tidak bisa diprediksi, maka hutang tetap akan memiliki risiko. Dalam hal ini, perusahaan A memiliki liabilitas sebesar 500 Miliar (1 triliun dikurangi 500 miliar) sementara perusahaan B memiliki liabilitas sebesar 250 miliar (1 triliun dikurangi 750 miliar). Ketika perusahaan memiliki hutang, maka mereka harus membayar bunga yang tentunya akan mengurangi porsi laba bersih. Tanpa melihat lebih jauh terhadap model bisnis keduanya, maka kita bisa mengatakan kalau perusahaan B lebih aman dibanding perusahaan A.A

Jadi mana yang lebih baik?

Tim Reformasi sendiri cenderung lebih menyukai ROE, begitu juga Warren Buffet karena sebagai calon investor, nilai ROE lebih merefleksikan keuntungan yang akan diperoleh oleh pemegang saham. Terlebih lagi, ROE bisa mengindikasikan peluang pertumbuhan pada perusahaan ke depannya. Porsi laba bersih yang tidak dibagikan sebagai dividen atau disebut “laba ditahan” (retained earnings) akan masuk menjadi bagian pada ekuitas.

Pada perusahaan A diatas, maka jika mereka tidak membagikan dividen, laba bersih sebesar 200 miliar akan ditambahkan ke ekuitas sehingga ekuitas pada tahun selanjutnya menjadi 700 miliar. Seandainya perusahaan mampu mempertahankan nilai ROEnya, maka dengan ekuitas sebesar 700 miliar, manajemen dapat menghasilkan laba bersih sebesar 280 miliar yang artinya dalam 1 tahun, laba bersih perusahaan bisa naik sebesar 40%. Inilah mengapa pada saham perusahaan dengan nilai ROE yang tinggi maka sebaiknya manajemen tidak membagikan dividen dan menahan seluruh laba untuk mengembangkan perusahaan. Hal ini disebabkan karena investor pada umumnya akan kesulitan menemukan investasi yang menghasilkan tingkat pengembalian diatas 40%.

Simpelnya, kita kembali pada contoh perusahaan A, anggap saja pemegang sahamnya hanya ada 1 orang. Jika seluruh laba dibagikan dalam bentuk dividen, maka pemegang sahamnya akan memperoleh dividen sebesar 200 miliar yang selanjutnya bisa disimpan di deposito dengan bunga 7% sehingga menghasilkan keuntungan sebesar 14 miliar. Sementara itu jika tidak ada dividen, perusahaan bisa menggunakan laba tersebut untuk operasionalnya dan menghasilkan laba bersih sebesar 80 miliar. Oleh karena itulah pada perusahaan dengan ROE yang rendah (dibawah 8%), dividen sangat diharapkan karena investor dapat mengalokasikan dividen ke investasi yang lebih menguntungkan, sementara bila ROE tinggi, laba sebaiknya ditahan agar bisa menikmati tingkat pengembalian (ROE) dari perusahaan.

Kesimpulan

Bukan berarti ROA tidak penting. Jika nilai ROA dan ROE berbeda terlalu jauh, kalian perlu waspada karena artinya perusahaan memegang hutang atau liabilitas dalam jumlah besar dan manajemen perlu lebih hati-hati.

Sekarang kalian sudah mengetahui apa itu ROA dan apa itu ROE. Namun angka ini tidaklah bisa menjadi satu-satunya dasar bagi kalian untuk berinvestasi. Masih ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan, sebelum kalian membuat keputusan. Stay tune dengan artikel Reformasi selanjutnya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *