Saham Murah atau Saham Mahal? Bagaimana menganalisa harga saham?

Ketika kamu pertama kali terjun ke dunia saham, tentu kamu merasa bingung ketika disambut oleh lebih dari 500 pilihan saham. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan orang biasanya adalah harga yang mendorong kamu untuk mencari tahu metode menganalisa harga saham.

Jika beli yang harganya murah, tentu bisa untung dong? eits, belum tentu.

Meski performa suatu saham tidak selalu berbanding lurus dengan harga sahamnya, namun ada miskonsepsi tentang mahal atau murahnya sebuah saham.

Kalau saya tanya “es teh tawar (pakai Sariwangi, bukan TWG) seharga Rp 11.000 dengan jus blueberry (buah asli dan murni) dengan harga Rp 15.000”, mana menurutmu yang murah dan mana yang mahal dari kedua pilihan tersebut?

Mungkin sobat Refo sudah mulai bisa menebak maksud saya. Mahal atau murah tidak bisa dilihat dari harga nominal saja. Jika es teh tawar yang biasa kamu beli dengan harga Rp. 4000 tiba-tiba dijual dengan harga Rp 11.000 ya jelas kemahalan dong. Sementara jus blueberry murni yang biasanya dijual Rp. 40.000 di kafe tiba-tiba dijual Rp 15.000 ya murah banget lah.

Hal yang sama berlaku juga di dunia saham. Saham yang dijual dengan harga Rp 7000/lembar bukan berarti lebih mahal dari saham dengan harga Rp 2000/lembar. Kamu harus membandingkan harga tersebut dengan nilai yang kamu peroleh untuk bisa mengetahui murah atau mahalnya sebuah saham.

Nah, bagaimana caranya menganalisa harga saham?

Kali ini Refo akan membahas 3 rasio yang bisa kamu pakai untuk mengambil kesimpulan tentang harga sebuah saham. Tapi ingat, harga saham tidak selalu berbanding lurus dengan performanya. Seperti jaket bomber di Zara yang hari ini diskon 50% dan bulan depan bisa didiskon 70%, saham murah pun bisa menjadi lebih murah (begitu juga saham mahal). Jadi hanya gunakan 3 metode ini sebagai referensi saja, bukan satu-satunya alasan untuk berinvestasi.

1. PER atau P/E Ratio (Price to Earning Ratio)

PER adalah salah satu cara menganalisa harga saham yang paling simpel dan umum dipakai di dunia keuangan. Dasar analisanya dilakukan dengan membandingkan harga saham dengan laba bersih perusahaan. Perusahaan yang memiliki keuntungan besar tentu selayaknya mempunyai harga yang lebih tinggi juga. Logis kan?

Cara memperoleh PER adalah dengan membagi harga saham di pasar dengan keuntungan perusahaan per lembar (EPS, yang diperoleh dengan cara membagi laba bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar). Jika harga saham adalah 5.000 sementara EPSnya adalah Rp. 500/lembar, maka PER saham tersebut adalah 10x. Semakin tinggi PER, maka saham bisa dianggap lebih mahal dibanding saham dengan PER rendah.  Sebagai contoh bila kita membandingkan kedua saham perusahaan yang pasti kalian kenal, yaitu bank Mandiri (kode saham : BMRI) dan bank BRI (kode saham : BBRI). Harga pasar BMRI pada tanggal 6 Mei 2019 adalah 7.425 dengan PER 13x sementara harga saham BBRI adalah 4.220 dengan PER 15x. Meski secara nominal harga saham BMRI lebih mahal, namun secara nilai PER ternyata justru lebih murah karena kamu hanya perlu membayar sebesar 13 kali keuntungan perusahaan, sementara untuk Bank BRI, kamu perlu membayar 15 kali dari keuntungannya.

Namun bukan berarti PER ini adalah angka yang absolut untuk menentukan murah atau mahalnya sebuah saham. Ada beberapa faktor penting yang perlu menjadi perhatian. Yang pertama, industri yang berbeda memiliki standar PER yang berbeda. Sebagai contoh perusahaan consumer goods seperti Unilever (kode saham : UNVR) memiliki nilai PER hingga 38x. Idealnya ketika membandingkan dengan PER, kamu membandingkan perusahaan yang berada di industri yang sama.

Kedua, PER juga bisa dipengaruhi oleh hasil yang tidak merefleksikan keadaan sesungguhnya dari sebuah perusahaan. Ketika kamu menggunakan angka PER, kamu mengasumsikan bahwa harga belimu ini bisa balik modal dalam beberapa tahun perusahaan membukukan keuntungan. Misal bila PER 10x, maka kamu mengharapakn dalam 10 tahun, investasimu akan balik modal. Namun terkadang perusahaan mencatat one time event, yaitu sebuah keuntungan atau kerugian yang tidak akan berulang setiap tahunnya. Sebagai contohnya adalah apa yang terjadi di saham dengan PT. Mitra Pinasthika Mustika Tbk. (kode saham MPMX) berikut ini:

Bisa sobat refo lihat di paling bawah, laba bersih MPMX naik dari 412.626 di tahun 2017 menjadi 3.701.835. Dashyat kan? Naik hampir 9x lipat, apakah saatnya beli? Tunggu dulu. Ternyata sumber labanya tidak seindah yang diperkirakan. Coba kamu lihat kolom “Laba neto dari operasi yang dilanjutkan” yang ternyata justru turun dari 127.086 di tahun 2017 menjadi 46.731 di tahun 2018. Ini adalah laba yang berasal dari lini bisnis utama MPMX, yaitu dari jualan motor, mobil, servis, sewa, dan lain-lain. Lini bisnis ini akan terus ada dan berjalan selama perusahaan tetap ada dan tentunya kamu ingin lini bisnis utama yang menghasilkan laba besar.

Namun yang terjadi di MPMX justru sebaliknya. Kontributor utama dari laba bersih perusahaan berasal dari kolom “laba neto dari operasi yang dihentikan”. Di tahun 2018 kemarin memang MPMX memutuskan untuk menjual divisi oli motor Federal Oil kepada BP (British Petroleum) dan mencatatkan keuntungan. Yang jadi pertanyaan, apakah sumber laba ini bisa diandalkan? Tentu tidak. Perusahaan tidak bisa mengulang kembali kebijakan yang sama untuk tahun 2019 dan 2020. Oleh karena itulah hal ini disebut one time event, sementara kita berfokus pada recurring income (penghasilan yang berulang). Berkat one time event ini, EPS MPMX bisa naik menjadi 871, naik 10x lipat dari EPS sebesar 87 di tahun 2017. Di harga Rp 1000, maka PER MPMX hanya 1.14x, sebuah angka yang sangat fantastis. Namun sayangnya angka ini palsu dan tidak merefleksikan keadaan yang sesungguhnya (namun kami tetap membelinya karena alasan lain yang akan kita bahas di artikel terpisah, ini akan menjadi studi kasus yang menarik, jangan lupa keep in touch ya sobat Refo).

Dan yang ketiga, PER lebih cocok untuk perusahaan yang memiliki profitabilitas stabil. Terkadang karena suatu sebab laba bersih sebuah perusahaan bisa turun hingga tersisa sedikit atau minus yang berakibat pada angka PER yang menjadi sangat tinggi atau bahkan minus. Angka PER (diatas 100x atau minus) seperti itu sangatlah tidak bisa diandalkan sebagai pembanding.

Namun dibalik berbagai kelemahannya, PER tetaplah metrik yang sangat berguna , terutama untuk filtering atau menyaring saham berkualitas dengan yang tidak secara singkat. Tapi kamu tetap harus ingat bahwa PER bukanlah sebuah keputusan beli atau jual yang optimal.

2. PBV atau P/BV (Price to Book Value)

Bila PER membandingkan harga saham perusahaan dengan laba bersihnya, maka PBV membandingkan harga saham perusahaan dengan aset bersih yang dimilikinya. Aset bersih bisa diperoleh dengan mengurangi total aset dengan liabilitas sehingga diperoleh ekuitas. Simpelnya adalah nilai aset yang tersisa dan menjadi hak pemegang saham setelah dikurangi dengan hutang dan liabilitas lainnya.

Seperti PER, PBV juga sering dipakai sebagai metrik dalam menganalisa harga saham. Sebelumnya kan Refo sempat bilang kalau PER tidak bisa dipakai pada perusahaan yang sedang rugi atau laba bersihnya turun banget. Tentu kan tidak benar kalau kita menganggap sebuah perusahaan tidak berharga karena sedang rugi dan nilainya PERnya 0. Kenapa?

Karena perusahaan tersebut masih memiliki banyak aset yang bernilai tinggi. Mulai dari uang kas, barang dagangan, sampai dengan tanah dan bangunan. Meski sedang merugi, sebagai pemegang saham kamu memiliki klaim terhadap aset tersebut, jadi jelas sekali kalau faktor aset bersih sangat berperan dalam menentukan harga saham. Inilah yang coba ditangkap oleh PBV.

Sama seperti PER, idealnya ketika membandingkan PBV sebuah saham, kamu ingin membandingkan dengan perusahaan yang berada di industri yang sama. Sebagai contoh, perusahaan di industri perkapalan seperti SMDR (PT. Samudra Indonesia Tbk.) memiliki PBV yang rendah 0.32x karena aset yang dimilikinya berupa armada kapal sangatlah tinggi. Sementara itu perusahaan ritel seperti LPPF (PT. Matahari Department Store Tbk.) yang mayoritas semua storenya adalah sewa dan barang yang dijual adalah konsinyasi memiliki jumlah aset yang relatif lebih rendah sehingga PBVnya bisa mencapai 6.7x. Kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa LPPF 20 kali lebih mahal dibanding SMDR karena kebutuhan aset di industri mereka sangat berbeda.

Selain itu, PBV juga memiliki kelemahan, yaitu akurasi data. Nilai aset yang tertera di laporan keuangan tidak bisa merefleksikan nilai sesungguhnya dari aset tersebut.

Perusahaan terbuka wajib melaporkan keuangan setiap 3 bulan sekali pada akhir kuartal. Sebagai investor, kita membaca laporan keuangan yang dicatat pada tanggal akhir kuartal, bukan saat ketika membacanya. Selama jedah waktu tersebut, nilai aset perusahaan bisa berubah. Jika perusahaan memiliki kas dollar, maka harga dollar setiap hari berubah-rubah. Begitu juga perusahaan yang memiliki barang dagangan (tercatat sebagai Inventory di laporan keuangan) yang harganya ikut berubah setiap saat. Harga batu bara hari ini berbeda dengan harga batu bara bulan lalu. Harga handphone Xiaomi Redmi Note 6 ketika launching (saat Laporan Keuangan dicatat) berbeda dengan harga handphone yang sama 2 bulan setelahnya ketika kompetitor berniat meluncurkan produk saingan.

Nah pembahasan diatas itu baru dari aset lancar. Kita belum membahasnya dari sudut pandang aset tetap yang lebih rumit seperti mesin produksi, tanah, hingga aset intangible seperti hak paten dan goodwill. Tiap perusahaan memiliki metode pencatatan dan penyusutan yang berbeda-beda sehingga membuat proses perbandingan menjadi lebih susah. Namun pada akhirnya, ketika kita membeli sebuah saham, kita mengharapkan perusahaan tersebut dapat menghasilkan shareholder value berupa keuntungan, bukan koleksi sekumpulan aset. Sayangnya PBV tidak mampu merefleksikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.

Baik PER dan PBV memiliki karakteristiknya masing-masing dan dengan mengetahui kelemahannya, maka Refo berharap kalian bisa lebih kritis dan bijaksana dalam menggunakannya. Banyak investor awam yang menganggap bahwa PER dan PBV saja sudah dirasa cukup sebagai kriteria dalam memilih saham dan kaget ketika melihat harga saham dengan PER yang rendah ternyata bisa menjadi lebih rendah lagi sementara saham dengan PER tinggi bisa naik lebih tinggi lagi.

Berkaitan dengan diatas, Refo mau menambahkan satu metrik lagi yang jarang dipakai namun sangat berguna untuk menambah pengetahuanmu dalam menganalisa harga saham.

3. PEG (Price/Earnings-to-Growth Ratio)

Salah satu yang menjadi poin perhatian bagi investor adalah pertumbuhan. Tentunya perusahaan yang bisa meningkatkan omzet dan laba bersihnya dari tahun ke tahun tentu lebih baik dari perusahaan yang kinerjanya begitu-begitu aja, setuju kan?

Ketika kita membandingkan PER diantara dua perusahaan, kita mengasumsikan bahwa keduanya memiliki tingkat pertumbuhan yang sama. Nyatanya perusahaan di industri yang sama bisa memiliki potensi pertumbuhan yang berbeda. Pada dasarnya, perusahaan berukuran kecil memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding perusahaan besar. Sebagai contoh, lebih mudah bagi perusahaan dengan penjualan 1 miliar untuk meningkatkannya menjadi 1.2 miliar untuk tingkat pertumbuhan sebesar 20%. Sementara perusahaan dengan penjualan 1 triliun akan kesulitan mencapai pertumbuhan serupa. Dalam ekonomi, hal ini disebut law of diminishing returns.

Sayangnya tidak seperti PER dan PBV, umumnya penyedia data keuangan seperti Yahoo Finance, Bloomberg atau Reuters tidak secara otomatis menyediakan nilai PEG sehingga sobat Refo perlu menghitungnya secara manual. Namun tidak perlu khawatir, menghitung PEG tidaklah susah.

Image result for PEG ratio formula

Kamu bisa mendapatkan PEG ratio dengan membagi PER (Price/Earning Ratio) dengan pertumbuhan EPS (Annual EPS Growth). Untuk memperoleh pertumbuhan EPS, kamu bisa membandingkan EPS pada tahun terakhir dengan EPS pada tahun sebelumnya.

EPS HMSP pada tahun 2017 adalah sebesar 108.93 sementara pada tahun 2018 adalah sebesar 116.39, kita dapat memperoleh pertumbuhannya dengan [(EPS 2018 – EPS 2017)/EPS 2017]-1 . Dengan memasukkan angka ke dalam formula [(116.39-108.93)/108.93]-1 maka kita akan memperoleh 0.0684 alias 6.84%. Inilah annual growth dari HMSP. Kembali ke rumus PEG, maka kita dapat memperoleh PEG HMSP dengan membagi PER yaitu 31.88 dengan annual growth yaitu 6.84 sehingga ditemukan nilai PEG HMSP sebesar 4.66x.

Dibanding PER, PEG lebih unggul karena dapat merefleksikan unsur pertumbuhan sebagai pembanding. Namun karena angka dasarnya berasal dari PER, maka pada akhirnya segala kelemahan dari PER ikut menjadi kelemahan bagi PEG. Dan lagi angka annual growth adalah angka prediksi semata dan tidak bisa dijadikan pegangang seperti angka yang berasal dari laporan keuangan lainnya.

Beuh, akhirnya selesai juga.

Panjang banget, tapi Refo senang kalau kalian membaca sampai akhir. Setidaknya kalian udah jauh lebih advance dalam menganalisa harga saham dibanding investor kebanyakan.

Ada pertanyaan? Jangan ragu tanyakan di komen ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *