The Right Stock at The Right Time

Sobat Refo,

pertanyaan yang sering Refo dengar adalah bagaimana mengetahui saham yang akan naik drastis hari ini? atau saham apa yang akan menjadi ten-bagger dalam waktu setahun? Well, Refo tidak punya bola ramal untuk mengetahui pergerakan harga harian atau memprediksi berapa harga tertinggi yang mungkin dicapai suatu saham.

Walaupun demikian, keputusan kita berinvestasi tidaklah ditentukan dari kedua pertanyaan tersebut. Refo dalam melakukan strategi investasi menggunakan basis analisis fundamental sebagai dasar, lalu dipadukan kembali dengan kondisi yang ada. Ada banyak guru dalam aliran fundamental ini dengan style-nya masing-masing, mulai dari Benjamin Graham, Warren Buffet, Phil Fisher, ataupun Joel Greenblatt. Untuk teori masing-masing, Refo sarankan sobat untuk membaca bukunya langsung, karena Refo lebih suka membahas bersama berdasar kasus aktual.

Sayangnya, ketika investor mendengar kata “analisa fundamental” yang terpikir sering kali adalah kedua rasio berikut: Price to Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).

Analisa fundamental mempercayai bahwa jika kinerja perusahaan meningkat, harga saham perusahaan juga dapat meningkat secara jangka panjang. Karena itu analisa fundamental berfokus menganalisa pada prospek kinerja perusahaan di masa mendatang. Sedangkan kedua rasio tersebut, walau juga digunakan untuk melihat valuasi perusahaan tapi tidak menjadi satu-satunya patokan, karena banyak yang menggunakan untuk melihat masa lalu. Mengapa hal ini berbahaya? Simak grafik harga berikut.

Gambar grafik diolah dari stockbit

Siapakah investor yang mendapatkan gain dari INDY? apakah investor A yang membeli di 2017 ketika perusahaan melaporkan kinerja yang rugi, sehingga PER (4.0)x (baca: minus empat) di harga 700, ataukah investor B yang membeli di release Maret 2018 ketika PER 3.9x (baca: positif, tiga koma sembilan) di 3450? Well, jawabannya tergantung dari harga jualnya, bisa saja investor yang terakhir tersebut berubah haluan jadi trader dan menjual di garis resist downtrend linenya. hehe. Yang jelas, bila keduanya masih melakukan buy and hold, maka investor yang pertama masih untung dibanding harga penutupan hari ini di 1665, sedangkan investor kedua yang membeli dengan dasar PER 3.9x di harga 3450 akan mengalami rugi 52%. Bahkan jika investor A berhasil keluar walau tidak di benar-benar puncak 4000, tapi di 3000 an saja, sudah menghasilkan return >400% dalam waktu 1 tahun.

Jadi, harus bagaimana dong? Kembali kepada keyword yang Refo sudah sebutkan tadi, yaitu analisa terhadap kinerja masa mendatang. Jika dalam kasus Indika Energy tersebut, seorang yang melakukan analisa untuk memprediksi kinerja Indika, harus mengetahui setidaknya outlook harga coal ke depan. Harga coal ke depan, kita memprediksi berdasarkan tren yang ada di coal futures, tren oil, outlook demand dari China dan negara-negara konsumen coal. Bergeser ke bottom, kemudian melalui presentasi perusahaan, kita mendapatkan cash cost perusahaan, outlook volume produksi coal Indika ke depan, terutama biasanya yang di-highlight adalah Kideco, yaitu tambang utama milik Indika. Dari sini kita menganalisa tren kinerja periode berikutnya. PER tidak salah jika kemudian digunakan untuk mengukur forecast PER perusahaan. Tentu saja ada beberapa kasus PER historis masih cukup layak digunakan untuk screening awal, misalnya pada perusahaan manufaktur, namun yang jelas bukan perusahaan komoditas yang harga jualnya ditentukan berdasarkan harga komoditas ke depan.

Sahamnya sama, Indika Energy (INDY), tapi hasil yang didapat kedua investor berbeda. Maka dari itu pentingnya untuk memiliki the right stock at the right time. Dengan melakukan analisa yang mendalam, bisa bottom-up, bisa juga top-down approach. Simpelnya seperti gambar berikut.

Lalu, apa yang kita perlukan untuk melakukan analisa seperti ini?
1. Informasi yang akurat, dan sebanyak mungkin sebelum diolah menjadi analisa.
2. Melakukan analisa yang obyektif, menentukan outlook dari industri/perusahaan.
3. Baik top-down atau bottom-up kita harus bertanya kembali, kenapa perusahaan tersebut dan bukan yang lainnya (peers satu sektornya)? Secara spesifik perusahaan, kita harus juga melihat manajemen yang mengelola perusahaan, berdasarkan rekam jejak yang ada, kemampuan finansial perusahaan baik secara operating, investing, maupun financing activitiesnya.

Biasanya tahapan yang paling sulit justru untuk menentukan spesifik perusahaan, karena selain informasi kuantitatif yang tersedia, kita harus menentukan juga berdasarkan informasi kualitatif yang mana kita harus lebih teliti.

Penutup

Apa ini, tulisan Refo kok basic banget?
Untuk approach yang lebih kompleks sebagai penutup, Refo akan tampilkan diagram yang menarik dari Todd Wenning, CFA. Berikut adalah yang harus dianalisa dalam membeli sebuah perusahaan.

gambar diagram (c) Todd Wenning, CFA

Solusi

Refo menyadari bahwa tidak semua orang memiliki waktu untuk mencari informasi, ataupun untuk belajar melakukan analisa mandiri (walau Refo tetap mendorong). Apalagi melakukan analisis diantara 628 emiten. Waktu adalah sebuah sumber daya juga, yang tidak boleh disia-siakan, maka seseorang harus menggunakan waktu untuk mendapat manfaat dan kepuasan tertinggi dalam hidup (marginal utility principle). Maka, Refo menyadari betapa berharganya waktu kamu, sehingga Refo menyediakan ebook kuartalan yang merupakan analisa dari instrumen dan saham yang ada yang sobat butuhkan untuk menjalankan investment plan.

Info lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *