Tujuan Perencanaan Keuangan

Perencanaan keuangan tidak dapat dipisahkan dari tujuan keuangan seseorang. Yang menjadi masalah seringkali seseorang belum dapat menentukan apa yang sebenarnya ia butuhkan dan kemudian tujuan keuangan tersebut menjadi kabur. Umumnya orang yang awam akan berpikir tujuan keuangan seperti berikut:
1. Saya ingin kaya – tujuan ini tidak memberikan definisi yang jelas kaya itu hingga standar seperti apa
2. Saya ingin memiliki uang 1 miliar – tujuan ini lebih jelas dari poin (1), tetapi perlu diperjelas lagi dalam rentang waktu berapa lama dan untuk apa uang tersebut
3. Saya ingin memiliki uang 1 miliar sehingga bisa menikah dalam 5 tahun ke depan. – poin (3) sudah lebih jelas daripada poin (1) dan (2), sehingga dengan ini biasanya seorang perencana keuangan akan mulai membantu menyusun program.

Apakah tujuan tersebut mungkin dicapai atau tidak, maka perencana keuangan, sebut saja Bu Vina, akan melihat kembali kondisi finansial dari klien, sebut saja Andi. Andi ternyata memiliki gaji (bersih) 5 juta/bulan, dengan bonus tahunan simpelnya 8 juta. Sementara biaya hidup Andi sebulan Rp 4 juta. Yang Andi dapat tabung hanya Rp 1juta, dan seluruh bonus tahunan. Setelah memikirkan rencana yang paling agresif sekalipun, dengan estimasi Bu Vina return 15%/tahun atau 1,25%/bulan ditempatkan ke dalam instrumen P2P dan RD Saham, maka Bu Vina hanya memberikan angka 143.673.742 di akhir bulan ke-60.

Kemudian Bu Vina, memberikan alternatif pilihan kepada Andi:
1. Memperpanjang rentang waktu investasi, sehingga bisa memberikan return lebih tinggi
2. Menurunkan target angka 1 miliar
3. Menyisihkan lebih banyak dana untuk investasi

Andi kemudian tidak menyetujui semua usul Bu Vina, dengan alasan:
1. Andi ingin cepat menikah, dan Andi berpendapat budget pernikahan setaraf akan meningkat bila waktunya lebih lama lagi.
2. Andi mau pernikahannya keren seperti teman2 di Instagramnya
3. Andi sudah hidup cukup, mempertimbangkan dari 4 juta, sebagian besar adalah biaya kos, makan, transportasi, dan pulsa.

Andi menganggap Bu Vina tidak kompeten, lalu kembali scroll instagramnya dan menemukan “perencana keuangan yang lebih kompeten” sebut saja Pak Joni. Terutama Andi tertarik dengan cerita klien-klien Pak Joni yang kaya raya, sementara dirinya merasa bagian dari sobat misqueen. Setelah chat dengan admin dari IG Pak Joni, Andi setuju mengikuti seminar saham yang diselenggarakan Pak Joni dengan membayar Rp 5 juta. Seluruh gajinya ia korbankan untuk ikut, biaya hidup saat ini ia bayar dengan berutang.

Setelah mengikuti seminar, ia merasa makin PeDe dan buka rekening saham. Dengan modal 1 juta, Andi mulai trading berharap segera mendapat 1 Miliar. Ia pun akhirnya jadi sering memantau running trade di jam kerja, dan aktif trading saham gorengan, ia percaya ia sudah bisa membaca chart dan analisa volume. Ia melihat saham XXYY aktif sekali, volume tiba-tiba besar, ini pasti breakout, walau harga sudah naik 15% ia kejar, karena ia percaya ini adalah awal tren naik. Sering ia ditegur atasannya dan saat ia ditegur, segera ia menutup program OLT nya. Lalu, saat jam makan siang ia buka lagi, ternyata saham gorengannya XXYY sudah -25% (autoreject kiri). Ia panik. Hari esoknya, saham tersebut -25% lagi. Ia segera cutloss begitu ada kesempatan.

Ia konsultasi kembali dengan admin Pak Joni, dan setelah 3 hari admin Pak Joni membalas untuk membeli saham ABCD, sebuah saham yang baru 6 bulan IPO. Bulan depannya, Andi topup lagi akunnya dan membeli saham ABCD, ditunggu-tunggu ternyata kok tidak naik-naik. Apalagi, teman Andi bercerita dirinya sudah untung banyak dari saham EFGH Air 100% bulan itu. Andi semakin bingung karena saham EFGH Air sangat tidak direkomendasikan waktu ia datang ke seminar Pak Joni. Saham ABCD tadi bukannya naik, tapi sideways melulu. Konsul lagi, Andi disarankan topup lebih banyak karena justru ini adalah kesempatan selagi ABCD masih belum naik. Andi makin berhemat, ia makan 2x sehari saja, diselingi dengan obat maag agar topup makin banyak, Andi bekerja dengan bimbang sambil memantau running trade, dan weekend Andi menjadi suram karena bingung menunggu Senin berharap saham ABCD nya naik AR kanan.

Tidak berapa lama, Andi makin stress dan diputus pacarnya, kemudian ia sendiri bunuh diri.

Cerita tersebut mungkin cerita FIKSI. Semoga tidak ada perencana seperti “Pak Joni” ataupun “Andi” yang tersesat ya. Sebenarnya, apa sih maksud Refo cerita begini?

Menentukan Tujuan

” a person who wants quick riches will get into trouble.”

Sebenarnya kalau diruntut dari awal, yang dibutuhkan Andi bukanlah uang 1 miliar, tapi bisa menikah. Andi tidak realistis, padahal Bu Vina sudah menjadi perencana yang cukup baik, hanya saja Andi dari awal memang tidak mengerti konsep karena dukungan dari Bu Vina sebatas dukungan teknis. Ketika seseorang menentukan suatu tujuan, ia harus melihat kepada 2 hal lainnya: kemampuan dan kebutuhan. Andi menentukan tujuan berdasarkan peers pressure tanpa melihat kedua hal tadi. Andi justru kemudian kehilangan banyak hal yang berharga dalam hidup: 1) kebahagiaan, 2) waktu, 3) pacar, 4) hidupnya.

Ada banyak kasus seperti Andi tentu dengan trouble yang berbeda-beda, seperti akhirnya mengikuti money game, skema ponzi, arisan berantai, investasi bodong, dan semua ujungnya adalah bukannya untung yang didapat tapi kerugian yang besar.

Trouble lain yang mungkin didapat adalah ketika seseorang merasa harus memiliki Rp 1 Miliar, barulah ia memperoleh kebahagiaan, tentang kisah ini akan dipost terpisah oleh Refo. Akhirnya, untuk mencapai target tersebut, seorang mengorbankan kehidupan masa kini lalu mulai hidup pelit bahkan kikir, dengan semboyan yang terkenal bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Well, Refo tidak setuju dengan hal ini. Ada beberapa poin yang harus kita pertimbangkan:
1. Siapa yang dapat menjamin setelah bersakit-sakit, kita pasti akan bersenang-senang? (Maaf) katakanlah jatuh sakit kronis atau (maaf) meninggal?
2. Katakanlah target 1 Miliar tadi misalnya supaya bisa bahagia dengan keliling dunia, siapa yang menjamin setelah terkumpul 1 Miliar masih punya tenaga yang cukup dan kesehatan prima untuk keliling dunia? Misalnya saja umur 20 masih bisa hiking, belum tentu umur 40 memiliki kekuatan yang sama.

Maka, menurut Refo, sebuah perencanaan keuangan yang baik adalah perencanaan keuangan yang realistis. Dalam post lain, Refo akan membantumu mengerti bahwa dalam dunia ini penuh dengan unsur trade-off/pertukaran.

Realistis melihat kepada kemampuan dan kebutuhan. Kebutuhannya ingin menikah bukan 1 miliar. Kemampuannya 1 juta per bulan+ 8 juta per tahun. Sebenarnya dengan 143 juta yang dianggarkan Bu Vina tetap bisa menikah kok, tentu saja mungkin sederhana. Tetapi, pengorbanan masa kininya cukup minimal, mengingat biaya hidup dari Andi memang 4 juta. Bila Andi menerima itu dengan bersyukur, hidup Andi lebih bahagia, bukan tidak mungkin Andi menjadi lebih produktif dalam bekerja dan cepat naik jabatan bukan?

Perencanaan keuangan tidak boleh mengorbankan kebahagiaan seseorang di masa kini. Refo tidak setuju dengan hidup pelit, tapi setuju dengan conscious spending. Simak bagaimana melakukan conscious spending dan menambah penghasilanmu disini.

A Balance Life

Di sisi lain, kita tidak boleh mengabaikan pentingnya perencanaan keuangan sedini mungkin. Kita tidak pernah tahu kapan kita memerlukan safety net untuk keadaan darurat. Kita juga meningkatkan kebahagiaan kita lewat perencanaan keuangan yang tepat. Kok bisa? Karena dengan membiasakan diri untuk mulai investasi dan melakukan conscious spending, kita benar-benar mendapatkan marginal utility tertinggi dari pengeluaran kita. Ketika kita mendapatkan penghasilan lebih dan sudah terbiasa melakukan kedua hal ini, kebahagiaan kita sudah tidak terikat dengan berapa uang yang kita keluarkan lagi.

Kita juga menyiapkan diri terhadap kemungkinan peluang dan kesempatan yang datang pada kita di kemudian hari, yang apabila untuk meraihnya kita memerlukan dana, maka ternyata kita sudah memiliki sejumlah dana untuk mengambil kesempatan tersebut. (misal rekanmu mengajak berbisnis dan setelah dianalisa ternyata bisnis tersebut sangat menjanjikan)

Jadi, jelas ya, posisi Refo disini justru PRO dengan perencanaan keuangan yang TEPAT. Yaitu, kita harus mempersiapkan masa depan, tetapi tanpa mengorbankan kebahagiaan masa kini.

Solusi Refo

Andi, pikirkan dan pertimbangkan hal-hal berikut:
1. Jika tujuanmu ingin menikah, diskusikan bersama pacarmu, saling terbukalah dengan kemampuan keuangan kalian masing-masing. Setelah itu baru dengan budget yang ada, model resepsi seperti apa yang kalian perlukan (berapa tamu undangan yang hadir, katering dsb). Ternyata belum tentu 1 miliar.
2. Mulailah menyusun rencana keuangan, dan jika targetnya memang dalam waktu 5 tahun, profil resiko harus disesuaikan dengan waktu tersebut, maka ada porsi pada pendapatan tetap juga. Jangan sampai karena terlalu agresif lalu batal menikah.
3. Jalankan rencana keuangan tersebut, untuk hal ini Refo tidak sarankan membuat joint account, tapi masing-masing menabung sendiri dengan disiplin, dan saling memantau/mengingatkan.
4. Nikmatilah masa-masa pacaranmu, jangan stress hanya karena urusan keuangan.

Hiduplah di masa kini, siapkan diri untuk masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *